Mengapa Liverpool Kalah Menjadi Hal Biasa di Musim Ini?
Mengapa Liverpool Kalah Menjadi Hal Biasa di Musim Ini?

Mengapa Liverpool Kalah Menjadi Hal Biasa di Musim Ini?

Siapa yang menyangka Liverpool kalah akan menjadi hal yang biasa terjadi di musim ini?

2020/21 sepertinya memang bukan musim yang akan dikenang dengan manis oleh para penggemar Liverpool. Fase bulan madu Jurgen Klopp dan Liverpool yang berlangsung sejak 2-3 tahun terakhir sepertinya sudah usai di musim ini.

Musim 2017/18, Klopp membawa Liverpool mencapai final Liga Champions pertamanya sejak 2007. Musim pertama trio Mo Salah, Sadio Mane dan Roberto Firmino bermain bersama diwarnai dengan permainan sepak bola yang atraktif, menghibur, dan membuat lawan keteteran. Walaupun kita tahu mereka harus menyerah di hadapan Real Madrid, thanks to Loris Karius.

Kekalahan menyakitkan tersebut langsung ditebus semusim berikutnya, ketika The Reds berhasil memenangkan trofi Liga Champions ke-6 mereka setelah mengalahkan Tottenham Hotspur di final. Masa-masa indah bagi fans Liverpool masih berlanjut hingga musim 2019/20. Jurgen Klopp seperti melakukan keajaiban dengan membawa Liverpool menyudahi puasa gelar di Liga Inggris sejak 1990, unggul telak 18 poin atas Manchester City.

Awal musim 2020/21, pertanda buruk mulai terlihat. Liverpool kalah telak 2-7 dari Aston Villa. Kekalahan tersebut merupakan kekalahan terbesar Liverpool sejak April 1963. Kesialan berlanjut di pekan berikutnya, ketika bek andalan mereka yang juga diklaim sebagai bek terbaik dunia dalam beberapa tahun terakhir, Virgil Van Dijk, mengalami cedera serius setelah kakinya diterjang oleh Jordan Pickford pada pertandingan Derbi Merseyside melawan Everton di pekan ke-5 Liga Inggris (17/10/20).

Uniknya, setelah dua tragedi tersebut, Liverpool seperti bangkit kembali. Kemenangan demi kemenangan diraih oleh Liverpool, baik di Liga Inggris mau pun Liga Champions. Liverpool bahkan mengakhiri tahun 2020 dengan memuncaki klasemen Liga Inggris dan finish di posisi pertama pada babak penyisihan grup Liga Champions. Klopp dianggap mampu melakukan keajaiban dengan membuat Liverpool tetap konsisten di papan atas.

Semua berubah ketika memasuki tahun 2021. Liverpool dan kekalahan seperti menjadi dua hal yang sering berdampingan di 2 bulan pertama tahun 2021. Performa Liverpool turun drastis. Kegemilangan sejak tahun 2018 seperti menghilang begitu saja dalam 2 bulan.

Terakhir, Liverpool kalah 0-2 dari Everton di akhir pekan kemarin (21/2/21). Kekalahan yang membuat Liverpool harus berada di peringkat 6 klasemen sementara Liga Inggris di pekan ke-25, tertinggal 19 poin dari Manchester City di posisi pertama dan memiliki poin sama dengan Everton yang masih memiliki tabungan 1 pertandingan. Bukan hanya itu, kekalahan melawan Everton merupakan kekalahan pertama Liverpool di Derbi Merseyside sejak tahun 1999.

Kekalahan tersebut merupakan kekalahan ke-6 Liverpool di Liga Inggris dalam 11 pertandingan terakhir. Padahal akhir Desember kemarin, Liverpool masih berada di posisi pertama di klasemen Liga Inggris. Sebuah penurunan performa yang sangat drastis dari sang juara bertahan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada apa dengan Liverpool?

Berikut ini adalah 6 faktor penyebab Liverpool kalah berulang kali di musim ini:

1. Badai Cedera di Posisi Bek Tengah

Cedera panjang Virgil Van Dijk di awal musim merupakan pukulan telak bagi Liverpool. Namun ketika Van Dijk absen, Joel Matip dan Joe Gomez masih bisa bahu-membahu mengisi lubang yang ia tinggalkan. Terbukti setelah Van Dijk cedera, Liverpool masih konsisten berada di peringkat 1 Liga Inggris dan menjadi juara grup di babak penyisihan Liga Champions.

Tim asuhan Jurgen Klopp ini mulai kehilangan ritme permainannya ketika Gomez dan Matip juga harus menerpi karena cedera panjang. Hal ini semakin diperparah karena 2 bek darurat mereka, Fabinho dan Jordan Henderson juga ikut-ikutan cedera. Membuat Jurgen Klopp semakin sakit kepala.

Total, Liverpool sudah memainkan 18 kombinasi pasangan 2 bek tengah di musim ini. Tidak ada kombinasi tetap di posisi bek tengah tentu berdampak terhadap stabilitas sebuah tim. Terutama bagi tim yang terbiasa membangun serangan dari bawah seperti Liverpool. Hal ini terlihat dari 11 laga terakhir di Liga Inggris, dimana Liverpool hanya bisa meraih 2 kemenangan, 6 kali kalah serta 3 kali imbang.

2. Kurang Leluasanya Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson

Cedera panjang yang dialami Van Dijk, Joel Matip, dan Joe Gomez menyebabkan efek domino ke duo bek sayap mereka, Trent Alexander-Arnold dan Andy Robertson. TAA dan Robbo merupakan duet bek sayap yang terkenal sangat agresif dalam menyerang. Umpan silang dan overlap keduanya sering kali menjadi faktor penentu kemenangan di musim lalu.

Absennya 3 bek tengah utama Liverpool membuat mereka tidak bisa terlalu agresif dalam menyerang. Pasalnya, bek-bek pelapis Liverpool seperti Henderson, Fabinho, Rhys Williams atau pun Nat Phillips tidak memiliki kecepatan seperti yang dimiliki oleh Van Dijk dan Gomez. Sehingga mereka berdua harus bermain lebih dalam untuk mengantisipasi serangan balik lawan. Musim lalu kombinasi TAA dan Robbo total menyumbang 25 assists di liga. Musim ini hingga pekan ke-25, keduanya total baru menyumbang 8 assists. Sebuah penurunan yang sangat signifikan.

3. Kehilangan Jordan Henderson dan Fabinho di Lini Tengah

Dalam 3 tahun terakhir, 2 tempat di lini tengah Liverpool sudah pasti menjadi milik Jordan Henderson dan Fabinho. Henderson tidak hanya seorang kapten, tetapi juga sebuah mesin dan lem yang menghubungkan lini belakang dan lini depan mereka. Krusialnya peran Henderson di lini tengah terbukti dari pencapaiannya musim lalu, dimana dia termasuk dalam PFA Team of The Year. Tidak hanya itu, ia juga terpilih sebagai Footballer of The Year versi asosiasi jurnalis di Inggris.

Sedangkan Fabinho, kehadirannya memberikan proteksi lebih untuk bek-bek di belakangnya. Ia juga sering kali menjadi pemutus serangan lawan. Badai cedera yang terjadi membuat keduanya harus bermain sebagai bek di musim ini. Hal ini membuat keseimbangan di lini tengah menjadi hilang. Keberadaan keduanya di lini tengah sangat penting dalam meng-cover kedua fullback Liverpool saat sedang menyerang dan meninggalkan posnya.

Baca Juga: Serial dan Film Tentang Sepak Bola yang Bisa Kamu Tonton Saat di Rumah

4. Menurunnya Performa Sadio Mane dan Roberto Firmino

Mo Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino dianggap sebagai salah satu trisula terbaik di dunia dalam beberapa tahun terakhir. Namun musim ini hanya Salah yang masih tampil konsisten dengan mencetak 17 gol, yang menjadikannya pencetak gol terbanyak sementara di Liga Inggris. Sedangkan Mane dan Firmino masing-masih baru mencetak 7 dan 6 gol. Terpaut cukup jauh dari Salah. Padahal di musim-musim sebelumnya keduanya bergantian menjadi pemecah kebuntuan Liverpool ketika Salah sedang melempem.

5. Cedera Diogo Jota

Kedatangan Diogo Jota di awal musim merupakan angin segar bagi Liverpool. Debutnya melawan Arsenal diawali dengan sebuah gol. Jota pun langsung menjadi alternatif Liverpool untuk memecah kebuntuan di beberapa pertandingan setelahnya. Ia bahkan sempat menggeser posisi Firmino di tim utama Liverpool sebagai striker utama. Sayangnya, setelah mencetak 5 gol dalam 9 pertandingan di liga, ia mengalami cedera saat bermain di Liga Champions melawan Midjtylland. Performa Liverpool seperti menukik tajam tanpa kehadirannya.

6. Ketidakhadiran Suporter

kekalahan liverpool
Sumber: Unsplash

Liverpool dikenal sebagai klub dengan suporter yang memiliki nyanyian paling bergemuruh ketika sedang menonton tim kesayangannya bertanding. Keberadaan suporter dapat memberikan motivasi dan energi ekstra hingga para pemain Liverpool bermain kesetanan. Comeback 4-0 melawan Barcelona di Liga Champions pada 2019 lalu merupakan contoh paling jelas. Bermain tanpa suporter membuat pemain Liverpool seperti kehilangan semangat dan ambisi ketika menghadapi lawan-lawan yang alot dan sulit dikalahkan.

Liga Inggris masih menyisakan 13 pekan. Masih ada cukup waktu bagi Liverpool untuk menyelamatkan musim ini dari kehancuran. Target realistis yang bisa dicapai oleh Liverpool adalah finish di peringkat 4 untuk mengamankan tiket ke Liga Champions. Walaupun tentu tidak akan mudah, karena Liverpool harus bersaing langsung dengan Manchester United, Leicester, Chelsea, West Ham, hingga Aston Villa dan Everton.

Selain itu, Liverpool masih diunggulkan untuk melaju ke babak 8 besar Liga Champions. Kemenangan 2-0 dari RB Leipzig di leg pertama seharusnya menjadi modal yang cukup untuk lolos ke fase berikutnya.

Kabar terakhir, Diogo Jota sudah mulai kembali berlatih jelang pertandingan melawan Sheffield United (1/3/21). Setidaknya berkurang satu permasalahan di kepala Klopp. Memang tidak mungkin mengharapkan Jota untuk menjadi jawaban semua permasalahan Liverpool. Semoga saja Jurgen Klopp dapat kembali melakukan keajaiban, seperti yang sudah pernah ia lakukan di musim-musim sebelumnya.

Leave a Reply

Copy link
Powered by Social Snap